Kesulitan terbesar yang dihadapi manusia adalah dirinya sendiri. betapapun kuat fisiknya, tinggi pemikirannya, ataupun memikat gaya bicaranya, tapi jika tak mampu menahan emosinya maka jatuhlah harkat dan martabatnya seketika itu juga. Emosi bertentangan dengan hati nurani jika tak diimbangi dengan kejernihan hati dan pikiran. Emosi justru dapat membawa bencana jika tak diarahkan untuk menghadirkan kebaikan. Emosi hanya menjadi benalu yang dapat menguras tenaga, pikiran, waktu bahkan jiwa kita jika tak didasari pemahaman dan kesadaran untuk menempatkan emosi pada tempatnya. Manusia memang diciptakan memiliki sifat berkeluh kesah, namun hal itu bukan lah sebuah alasan untuk membenarkan kemarahan yang tidak pada tempatnya. Terkadang ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan manusia, ada diskrepansi antara harapan dan kenyataan, dan seringkali fenomena tersebut membuat manusia seolah-olah kehilangan hakikat kemanusiaannya, meluapkan keluh kesah yang kemudian berdiferensiasi menjadi kemarahan..kemarahan yang “ditumpahkan” kepada lingkungan sekitarnya, orang lain, saudaranya, bahkan Tuhannya. Pengendalian diri merupakan akumulasi kebaikan yang telah kita lakukan. Sebab perisai luapan emosi yang kita sebut sebagai kesabaran itu tidak bisa muncul begitu saja. Pertanyaannya bagaimana kita mengimplementasikan hal tersbut.
“Kindness equation”
Persamaan Kebaikan (Kindness equation)
Semua tak pernah sama.. memang benar. Tetapi itu hanya pandangan yang memandang dengan kasat mata saja..sekilas.. entah jelas atau tidak tapi itulah penilaiannya. Namun bagi manusia yang hikmah menggelayuti segenap hatinya, akal dan pikirannya pun akan tergerak untuk memandang dengan cara yang berbeda.. menilai dengan hati, menyibak misteri, dan menghadirkan kebenaran hakiki. Ada kesamaan…coba renungkan, begitu banyak persoalan yang terselesaikan dengan persamaan dari pada dengan pertidaksamaan. Mencari sesuatu dengan meninjau properti yang identik, men-generate solusi dengan persamaan..menunjukkan bahwa hampir setiap masalah memiliki pintu keluar yang disebut persamaan. Namun langkah, usaha, dan tindakan manusia yang dilakukan untuk menuju pintu itu terkadang keluar dari jalur yang semestinya, sehingga lahirlah pernyataan..’you are different than me…” yang mampu memicu bom atom perpecahan dengan kata kunci perbedaan… ya, dimulai dari membeda-bedakan hal yang sama, dan berujung pada saling menyalahkan. Topik ini memang senstif bila ditinjau dari sudut pandang keyakinan, sebab pada hakikatnya keyakinan memang berbeda-beda, apalagi dalam beragama. Akan tetapi lain halnya jika ini menyangkut tujuan dan destinasi bersama, apapun dimensi kelompoknya, yang juga akan diwujudkan bersama. Mulai dari lingkup keluarga, komunitas pembelajar, hingga bangsa dan negara harus mulai memahami batas-batas perbedaan dan mau menginisiasi persamaan menjadi sebuah sudut pandang utama sebelum pikiran apriori perbedaan itu mendominasi.
Memang pada dasarnya Tuhan telah menciptakan manusia dengan bermacam-macam potensi lengkap dengan segala kekurangannya yang pastilah berbeda antara satu dengan lainnya. Tetapi bukan berarti perasaan berbeda itu menghalangi manusia untuk saling besatu demi mencapai suatu tujuan bersama. Justru perbedaaan itulah yang harusnya didiferensiasi menjadi sebuah kesamaan pemikiran sehingga dapat saling melengkapi satu sama lain. Kebaikan bersifat universal, diturunkan agar dapat akrab dengan hati nurani manusia. Maka bagaimana manusia memiliki hati nurani jika jiwanya menolak kebaikan. Hanya berkutat pada masalah perbedaan dan perselisihan. Bukankah Tuhan telah menciptakan manusia saling berbeda agar mereka saling mengenal, agar saling memahami letak persamaan yang mampu membawa dirinya dan orang lain kepada kebaikan. Bicara tentang persamaan adalah sebuah kebaikan, karena hal itu dapat mempermudah ikatan hati, sehingga menghadirkan kesejukan interaksi dalam semua dimensi. Jika ingin maju bersama, maka kuatkanlah persamaan, eratkanlah kebersamaan, samakan pemikiran sehingga betapapun berbeda jalan tetapi tetap satu tujuan, biarpun berbeda kehidupan tetapi tetap satu harapan, bersama-sama tebarkan kebaikan.
Begitu pula sebuah bangsa, bangsa yang besar tidak lagi bicara perbedaan, tetapi selalu mencari persamaan. Mencari celah sinergi untuk saling melengkapi bukan saling menjatuhkan dan menghakimi. Satu hal yang membuatnya satu dalam seluas apapun perbedaaan, kebaikan. Siapapun pada dasarnya menginginkan kebaikan dalam setiap hal. Pelaksanaan Ekonomi, penguatan pendidikan, pelaksanaan politik, pengelolaan energi, semua membutuhkan benih-benih, bahkan pohon-pohon kebaikan yang ditanam dalam masing-masing dimensinya sehingga suatu saat dapat berbuah kebaikan pula. Semakin universal dan luas cross sectional area yang diberikan oleh kebaikan maka semakin besar pula kebermanfaatannya, semakin banyak manusia lain yang merasakan kebaikan itu. Kesamaan pemikiran seperti inilah yang harusnya mampu mengikis segala perbedaan dalam diri manusia, apapun perannya. Persamaan pemahaman akan kesadaran untuk berbuat yang terbaik dan menjadi sumber kebaikan dalam semua dimensi kehidupan.
Percayalah..menerima persamaan lebih mudah daripada mengungkit perbedaan..
Dan menghadirkan kebaikan lebih mulia dari membiarkan keburukan.
kontemplasi…
Renungan…
Sesungguhya Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang berbuat kebajikan. Inilah janji Allah, sebuah janji dari Yang Maha Menepati Janji, suatu inspirasi dari penguasa langit dan bumi bagi umat manusia untuk mengabdi, berserah diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Dialah Allah Yang Maha Baik, yang senantiasa menyayangi hamba-hambaNya betapapun kita sering melupakanNya, yang terus menerus mengurus makhlukNya walaupun kadang kita mengkhianatiNya. Dialah Allah Yang Maha Mengetahui setiap siratan pikiran dan hati, menatap setiap perbuatan yang kita lakukan, bahkan saat sedang bermaksiat sekalipun, Allah Maha Melihat, maha mengetahui apa yang kita kerjakan. Dialah Allah Yang Maha Pemurah, yang selalu mencukupi rezeki setiap makhlukNya, termasuk kita manusia, yang terkadang sering mengiringinya dengan maksiat dan dosa. Bahkan seringkali berputus asa dari jaminan-jaminan Allah yang selalu mencukupkan setiap kebutuhan kita selama hidup di dunia. Astaghfiruka wa atuubu ilaiih.
Manusia memang seringkali kembali menghamba kepada Tuhannya ketika kesulitan dan kesempitan menerpa, namun terkadang lupa saat semua permasalahan itu tiada. Atau sebaliknya, rajin beribadah, semangat berbuat kebaikan, hanya jika keinginan-keinginanya terpenuhi, hanya jika sedang dalam keadaan lapang, akan tetapi senantiasa berpaling dari kebaikan dan bahkan berputus asa dari pertolonganNya ketika cobaan datang, ketika dalam kesempitan, dan ketika keinginannya tidak kunjung tiba. Ini polemik yang harus diselesaikan, sebab jika hal ini terjadi dalam diri kita, berarti iman kita selama ini tidak ada artinya, ibadah kita tidak berbekas dan tidak ikhlas. Bukankah di setiap shalat kita selalu berjanji, bersumpah, dan berikrar, bahwa sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan mati kita hanya untuk Allah penguasa alam semesta.
Keyakinan ini yang perlu dipertanyakan. Apakah sudah benar-benar yakin akan janji dan jaminan Allah? Apakah sudah sepenuhnya bersandar hanya kepada Allah? Ataukah rasa kebergantungan kita kepada Allah telah tenggelam dalam superioritas diri yang membuahkan kesombongan, ujub dan takabbur? Mari telaah diri lebih dalam, apakah tauhid telah benar-benar merasuk dalam hati kita? Ataukah ada tuhan-tuhan lain dalam pikiran dan hati kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini hanyalah sebagian kecil dari pertanyaan yang harus kita jawab, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dihujamkan dalam hati dan diimplementasikan dengan perbuatan. Mari introspeksi diri, perbarui keyakinan, murnikan ketaatan, luruskan niat, mujahadah, dan mohon pertolongan Allah untuk melindungi hati ini dari segala kemusyrikan sehalus apapun. Yakinlah akan janji Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Benar dan Maha Menepati Janji.
Super Great Generation… Untuk Gamais 2011
Super Great Generation…
Untuk Gamais 2011
Sebuah awal langkah perjuangan, perjalanan untuk berubah demi mengubah peradaban, mewujudkan kemadanian. 19 januari 2011, azzam ini dihujamkan dalam hati, menjadi sebuah janji untuk ditepati. Janji yang menjadi inspirasi kita semua, inspirasi untuk berpikir, berbuat dan menebar manfaat demi menggapai ridho Illahi dengan membangun generasi rabbani. Akankah taman-taman kehidupan itu terwujud? Akankah selimut awan keridhoan itu lahir dari perjuangan kita? Tak perlu kata untuk menjawabnya, mari berikan kesungguhan, tebarkan kebaikan, hiasi dengan kearifan, warnai dengan keteladanan, agar dakwah ini tegak dalam naungan pertolonganNya.
Amanah adalah salah satu jalan yang Allah berikan untuk menjaga seorang hamba agar senantiasa ada dalam ketaatan padaNya. Namun amanah juga merupakan sumber kehancuran seseorang menuju kebinasaan dunia dan akhirat apabila berkhianat, naudzubillah. Kepercayaan ini adalah ujian apakah kita akan taat atau sebaliknya. Sebuah cobaan apakah kita benar-benar lurus menjalankannya karena Allah atau malah terbelenggu dalam kelelahan yang jauh dari keberkahan. Sadarilah bahwa sesungguhnya tujuan dakwah hanya Allah,mardhotillah, sedangkan harapan-harapan kita, merupakan pemberian yang Allah berikan sesuai ikhtiar dan takdir yang telah ditetapkan. Artinya, tidak ada lagi keluh kesah dan keputusasaan dalam dakwah, tidak ada lagi buruk sangka kepada Allah dan makhlukNya sehingga dakwah dapat benar-benar menjadi sesuatu yang dinikmati, karena kita yakin bahwa suatu hari nanti kita akan mencicipi indahnya Surga bahkan indahnya suasana saat menatap Wajah Allah.
Pernahkah terpikirkan, bagaimana Rasulullah mengalami berbagai ujian, menapaki segala macam perjuangan demi tegaknya Islam. Bersama para sahabatnya, beliau berjuang. Segala macam penghinaan, penyiksaan, dan berbagai kezhaliman kaum kafir quraisy kepada beliau dan para sahabatnya terasa begitu berat, sampai mereka pun bertanya kapankah datangnya pertolongan Allah. Allah Maha Dekat dan Allah Maha Menepati janji. Saat ini, buah perjuangan itu dapat kita rasakan. Nikmatnya kita berislam, terbangunnya aqidah, khusyuknya ibadah, dan syahdunya tetesan air mata dalam munajat pada Allah, itulah capaian perjuangan Rasulullah untuk kita, untuk ummat yang dicintainya walaupun seringkali kita melupakannya, ummat yang selalu dijaga sampai akhir hayatnya walaupun seringkali kita tak menjaga sunnahnya. Maka wajib bagi kita, para kader dakwah untuk meneruskan perjuangan Rasulullah, sebuah washilah yang mulia, sebuah jalan untuk menggapai surgaNya.
Perjuangan Rasulullah beserta para sahabatnya tidak mungkin disia-siakan oleh Allah. Mereka yang berjuang Ikhlas demi tegaknya diinul Islam ini pasti dikumpulkan di SurgaNya kelak. Dijamu oleh jamuan yang belum pernah terbayangkan di dunia ini, jamuan Allah. Akankah kita meraih kenikmatan ini? Kenikmatan saat kita yang bersama-sama berjuang di jalan dakwah ini merasakan manisnya pertemuan dalam reuni agung di surganya Allah. Pertemuan yang penuh kemuliaan atas kesungguhan dan pengorbanan yang kita berikan di jalan Allah. Yakinlah semua itu akan menjadi suatu keniscayaan…karena sesungguhnya kita milik Allah dan hanya akan kembali pada Allah. Kemanakah kita akan berpulang, bagaimanakah akhir hidup kita, seperti apakah “rumah” kita di surga kelak…? kita sendiri yang menentukan, kitalah yang mendesain, lewat kesungguhan, pengorbanan, dan perjuangan dalam dakwah di jalan Allah.
“Tingkatkan kualitas diri, wujudkan generasi rabbani”
-dei-
19 jan 2011
Michael Faraday Lulusan SD yang menjadi ilmuwan besar
Sungguh sulit bagi kita, yang hidup di zaman serba listrik ini, membayangkan bahwa sekitar 3 abad yang lalu, listrik sama sekali tidak dikenal orang. Pada zaman pemerintahan Napoleon di Perancis, sekitar pertengahan abad ke-19, memang di beberapa tempat orang mengenal adanya beberapa “ahli listrik” yang senantiasa bekerja dalam laboratoriumnya. Namun kegiatan mereka sama sekali belum ada hubungannya dengan hal-hal praktis yang kta kenal sekarang, seperti penggunaan lampu listrik, radio, komputer dan sebagainya.
Suatu cerita menarik tentang peranan listrik ini tertulis dalam buku harian salah seorang “tukang listrik” seperti itu, yakni Michael Faraday. Saat itu ia menjabat sebagai direktur dari London’s Royal Institute, yaitu kumpulan orang-orang (terutama ilmuwan) yang disegani di ibukota di Ingris Raya. Suatu hari ia menjelaskan tentang cara bekerja suatu perlatan listrik kepada William Gladstone, seorang pejabat tinggi Kantor Bendahara Negara. Negarawan ini tidak mengerti apa gunanya peralatan seperti itu bagi masyarakat dan negara, “Benda seperti itu rasanya hanya berguna bagi kalian para ilmuwan” katanya. Mendengar itu, Faraday dengan cepat menjawab “Anda keliru, Anda dapat menarik pajak atas benda seperti ini”. Rupanya “ramalan“ Faraday tidaklah meleset. Saat ini setiap saat, di seluruh dunia, lampu listrik, motor listrik, televisi, komputer dan berbagai jenis peralatan elektronika serta segala macam peralatan yang menggunakan tenaga listrik, dapat menghasilkan bermiliyar dollar pajak dan memberikan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia.
Fakta yang menarik memang, bahwa kita yang hidup di abad ke-21 ini dapat menikmati manfaat energi listrik karena jasa para “tukang listrik laboratorium” saat itu. Beberapa nama para ilmuwan tersebut cukup familiar bagi kita, karena nama-nama mereka diabadikan dalam berbagai hukum, rumus, dan teori yang harus diketahui bila kita memelajari ilmu fisika listrik dan magnet. Di antara nama itu adalah Volta, Ampere, Oersted, Wheatstone, Faraday, dan lain-lain. Di antara para ilmuwan itu, nama Michael Faraday adalah nama terbesar dalam sejarah riset listrik pada masa awalnya, yaitu pada paruh pertama dari abad ke-19. Faraday adalah ilmuwan sejati—dengan segudang hasil penelitian—yang tak pernah mengenyam pendidikan formal lebih tinggi dari sekolah dasar. Seorang anak dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi, yang karena kemauan, ketekunan, dan kerja keras yang luar biasa ditambah kemampuan otaknya yang brilian, berhasil menjadikan dirinya sebagai seorang fisikawan eksperimental terbesar dan jenius yang disegani sampai saat ini. Dalam buku hariannya, Faraday menulis “Pendidikan formal yang saya jalani benar-benar hanya pendidikan tingkat sekolah dasar. Tak lebih dari dasar-dasar membaca , menulis, dan berhitung”. Faraday merupakan contoh klasik dari seorang anak tidak mampu yang menjadi ilmuwan besar, namun tetap hidup sederhana sampai hari tuanya.
Tukang Jilid
Michael Faraday dilahirkan pada Tanggal 22 September 1791, di desa Newington dekat kota London. Beliau merupakan putra ketiga dari keluarga Faraday, seorang pandai besi yang miskin. Beberapa tahun kemudian keluarganya pindah ke London untuk mengadu nasib. Di kota besar ini keluarga Faraday tinggal di perkampungan yang sangat sederhana dan hanya mampu menyewa dua buah kamar dalam deretan rumah-rumah petak yang digunakan untuk seluruh keperluan keluarganya. Di kota itu pulalah Michael kecil menyelesaikan sekolah dasarnya di sekolah untuk orang miskin. Ketika usianya 12 tahun, setamatnya dari sekolah dasar, sebenarnya Michael sangat ingin melanjutkan sekolah, namun apa daya, orang tuanya tidak sanggup lagi untuk membiayainya. Jadilah pada usia semuda itu Michael sudah harus mulai bekerja. Mula-mula ia menjdi pelayan di sebuah toko buku. Di sini ia mulai belajar menjilid buku. Namun dari pekerjaan yang tampaknya “rendah” itulah, yang membawa Michael pada jalan menuju karirnya yang cemerlang. Sejak kecil Michael memang selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar, segala sesuatu ingin dibaca dan dikeyahuinya. Kertas bungkus kacang pun tak pernah ia buang sebelum dibacanya. Demikianlah, sambil bekerja sebagai tukang jilid, ia pun membaca-baca buku yang dijilidnya. Hampir seluruh waktu senggangya ia gunakan untu membaca. Lama-kelamaan perhatiannya terpusat pada buku-buku mengenai penemuan maupun analisa ilmiah yang banyak terdapat dalam buku-buku yang dijilidnya. Suat hari ia membaca sebuah artikel berjudul “Conversation on Chemistry” karangan Jane Marcet dalam sebuah ensiklopedi. Artikel ini ternyata sangat menarik hatinya dan sejak saat itu keingintahuannya tentang fisika dan kimia, terutama yang menyangkut pengetahuan baru tentang listrik, semakin menggebu dalam hatinya. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya, Michael muda menghemat serta menabung sebagian uangnya untuk dapat menghadiri kursus-kursus tentang “filsafat alam” (natural philosphy), yakni istilah untuk menyebut kata sains pada saat itu. Ternyata sifat Michael ini menarik perhatian seorang pelanggan penjilidan bernama Dance. Orang ini juga seorang ilmuwan yang menjadi anggota Royal Institution. Suatu hari Dance mengajak Michael untuk mendengarkan kuliah dari Direktur Royal Institution, yang juga seorang ahli kimia terkemuka di zaman itu, bernama Sir Humphry Davy. Michael Faraday, yang ketika itu berusia 21 tahun, sangat terkesan pada kuliah-kuliah Davy. Sejak saat itu pula ia bertekad dalam hatinya untuk menjadi seorang ilmuwan. Michael sangat rajin mendengarkan kuliah Davy dan senantiasa membuat catatan rapi tentang semua yang didengar dalam kuliahnya. Beberapa waktu kemudian ia menuliskan semua itu, menjilidnya menjadi sebuah buku dan menyerahkannya kepada Humphry Davy, dengan disertai sepucuk surat. Dalam surat itu Michael mengajukan lamaran untuk menjadi pelayan di laboratorium Humphry dan menyatakan buku tadi sebagai bukti dan kesungguhan tekadnya untuk belajar. Beberpa hari kemudian seorang utusan Humphry mendatangi rumah Faraday dan menyerahkan surat yang memintanya datang ke Royal Institution. Setelah melalui beberapa wawancara, akhirnya Humphry menawarkan pekerjaan sebagia asisten laboratorium dengan gaji 25 shilling per minggu serta sebuah kamar untuk tinggal. Tentu saja Michael menermanya dengan sangat gembira. Pekerjaannya mula-mula hanya mencuci peralatan laboratorium, mengepel lantai, dan pekerjaan lain yang tidak ada hubungannya dengan minatnya yang besar untuk menjadi ilmuwan. Namun demikian, asisten muda ini tak pernah mengeluh, segala jenis pekerjaan dilakukannya dengan tekun dan gembira. Setidaknya setiap hari ia dapat senantiasa berhubungan dan mengenal segala jenis perlatan riset ilmiah, suatu hal yang menarik perhatiannya lebih dari segalanya.
Rupanya Davy pun tidak membiarkannya demikian. Sesekali ia menanyakan berbagai hal yang bersifat ilmiah kepada Michael dan ternyata jawabannya selalu memuaskan. Segera Davy menyadari bahwa Michael memiliki potensi, lalu mulailah ia menuntun anak muda itu menuju impiannya. Beberapa kali Davy mengajaknya melakukan perjalanan ilmiah ke seluruh Eropa dan mengenalkannya kepada para ilmuwan terkemuka dari berbagai negeri. Sementara itu Davy juga senantiasa memberikan kesempatan kepada asistennya untuk belajar dan melakukan eksperimen yang diminati di laboratoriumnya. Demikianlah, setapak demi setapak dengan tuntunan Davy dan kecerdasan, ketekunan, serta kemauan yang luar biasa, Faraday tumbuh menjadi ilmuwan terkemuka di zamannya. Beberapa tahun kemudian, ketika nama Faraday sebagai ilmuwan mulai terkenal dimana-mana, seorang rekan bertanya kepada Davy “Coba tuan sebutkan, penemuan ilmiah mana dari semua penemuan Anda, yang merupakan penemuan terbesar?” Dengan mantap Davy menjawab “Michael Faraday ! itulah penemuan ilmiahku yang paling besar.”
Garis Gaya Magnet
Sejak saat tu Faraday senantiasa menggunakan waktunya untuk melakukan riset , membaca analisa-analisa ilmiah, mendengarkan kuliah-kuliah terkemuka, dan sekali-kali juga memberikan kuliah. Pada tahun 1820, saat usianya 29 tahun, ia menikah dengan Sarah Barnard, putri seorang pandai perak di kota London. Pasangan ini hidup dengan rukun dan bahagia sampai hari tuanya. Tak lama setelah pernikahannya, pasangan ini mendapatkan tempat tinggal di gedung Royal Institution. Pada tahun 1825 Faraday terpilih sebagai anggota Royal Society dan mendapat kepercayaan untuk menjadi direktur laboratorium. Pada tahun 1830, ia diangkat menjadi guru besar dalam ilmu kimia di Fuller College. Namun gajinya masih tetap hanya 100 poundsterling per tahun, ditambah sedikit tunjangan.
Selama dasawarsa 1820-an, dunia ilmu pengetahuan sedang didominasi oleh serangkaian penemuan dari bidang ilmu kelistrikan. Ketika masih menjadi tukang jilid buku Faraday sudah tertarik pada masalah listrik sehingga riset pertama yang dilakukannya dalam laboratorium juga masalah itu. Mula-mula ia mengarahkan penelitiannya kepada gari-garis yang menggambarkan gaya magnet dan listrik. Setelah beberapa lama memelajari melakukan percobaan tentang hal ini, pada tahun 1821 Faraday berhasil memperlihatkan adanya “kurva” magnetik dan “garis listrik” itu. Ia melakukannya dengan menyebarkan bubuk besi pada sehelai kertas tebal yang datar dan menempatkan sebatang magnet di bawahnya. Segera terlihat bubuk besi itu bergerak dan membentuk kurva dengan bentuk yang khas. Rantai kurva itu paling tebal di dekat kutub magnetnya dan nampak adanya lingkaran besar pada setiap ujung magnet, yang menghubungkan satu kutub ke kutub lainnya. Dengan menganalisa pola kurva-kurva itu, Faraday dapat memecahkan teka-teki yang waktu itu sedang dihadapi para ilmuwan. Kini Faraday dapat menganalisa adanya gaya elektromagnet yang kekuatannyaberbeda-beda. Lebih lanjut lagi Faraday dapat menerangkan teka-teki yang dihadapi oleh para peneliti sebelumnya, misalnya eksperimen elektromagnetik dari Jean Argo serta teori gaya dalam arus listrik yang diajukan oleh Andre Marie Ampere. Beberapa tahun sebelumnya, tiga ilmuwan perintis kelistrikan yakni Hans Christian Oersted, Argo dan Ampere telah melakukan penelitian untuk mencari hubungan antara magnet dan listrik. Namun mereka melupakan satu hal yang pokok dalam teori dan eksperimennya, yaitu faktor gerakan (mekanika). Faraday menyadari adanya faktor yang sangat penting ini dan hasilnya ia menemukan dasar dari pengembangan dinamo dan motor listrik, hal yang dalam zaman modern ini mendominasi hampir semua peralatan listrik. Ia menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara listrik, magnet dan gerakan. Dalam buku hariannya, yang ditulis pada tanggal 26 Maret 1832, ia menuliskan “Hubungan sangat erat antara listrik, magnet dan gerakan dapat diibaratkan sebagai tiga buah garis yang membentuk segitiga”. Argo telah menunjukan bahwa batang besi yang dililiti kawat dapat berfungsi sebagai magnet jika lilitan itu dialiri arus listrik. Faraday yakin bahwa semestinya hal yang sebaliknya pun dapat dilakukan. Pada tahun 1822 ia menuliskan catatannya yang berjudul “Convert Magnetics Into Electrocity”, namun percobaannya masih belum berhasil. Kemudian ia mencobanya lagi pada tahun 1824 dan 1825, tetapi masih belum berhasil juga. Sejak saat itu ia meninggalkan masalah kelistrikan untuk sementara dan menekuni penelitian kimia.
Namun pada tanggal 29 Agustus 1831, ia memutuskan untuk kembali menekuni masalah listrik dan memulai kembali serangkaian percobaan untuk mengkonversikan magnet menjadi listrik. Akhirnya ia pun berhasil menunjukkan bahwa magnet dapat menghasilkan arus listrik. Percobaannya dilakukan dengan melilitkan dua lilitan kawat yang saling terpisah pada sebuah cincin besi. Lilitan pertama dihubungkan dengan sebuah batere sedangkan lilitan lainnya dihubnugkan dengan galvanometer, yaitu alat untuk mendeteksi adanya dan mengukur besar arus listrik. Ketika lilitan pertama dihubungkan dengan batere, ternyata nampak jarum galvanometer bergerak, artinya ada arus listrik mengalir pada lilitan kawat kedua: padahal lilitan ini sama sekali tidak berhubungan dengan batere. Jadi arus listrik yang mengalir di lilitan pertama menjadikan cincin besi bersifat megnet. Kemudian sifat magnet pada cincin besi itu menimbulkan arus listrik pada lilitan kedua dan menggerakkan jarum galvanometer. Apa yang diimpikan Faraday 9 tahun lalu kini menjadi kenyataan, ternyata magnet memang dapat menghasilkan arus listrik.
Setelah itu, Faraday melakukan percobaan lebih lanjut dengan memasang suatu piringan tembaga di antara dua kutub magnet bentuk tapak kuda, sedemikian sehingga piringan itu memotong garis-garis gaya magnet. Bagian as serta pinggir pinggiran itu kemudian dihubungkan dengan kawat yang disambungkan ke sebuah galvanometer. Ketika piring tembaga itu diputar dengan kecepatan tetap, ternyata jarum galvanometer bergerak, artinya putaran piring tembaga itu menghasilkan arus listrik. Percobaan ini membuktikan bahwa gerakan dapat menghasilkan energi listrik. Selain itu dengan percobaan ini Faraday telah membuktikan bahwa energi mekanik dapat dikonversikan menjadi energi listrik dan dengan demikian ia juga telah menemukan prinsip kerja sebuah dinamo. Peralatan yang sederhana itu merupakan dinamo yang pertama di dunia dan dengan menerapkan hal yang sebaliknya, Faraday dapat membuat motor listrik—yaitu mesin yang mendapatkan energi mekanik dari energi listrik.
Selain penemuan tadi, masih banyak lagi sumbangan Faraday bagi ilmu pengetahuan. Ia membuktikan bahwa semua zat memiliki sifat kemanunggalan tertentu. Ia juga menemukan bahwa zat-zat tertentu seperti ebonit atau gelas jika dikenai gaya magnet yang kuat, akan mengatur partikelnya sedemikian rupa hingga membentuk sudut tertentu terhadap garis gaya magnet. Faraday menyebut zat-zat yang bersifat demikian sebagai zat “diamagnetik”, sedangkan zat-zat yang mengatur dirinya sejajar dengan garis gaya magnet disebut dengan zat “paramagnetik”.Penelitian Faraday terhadap sifat-sifat megnetik ini telah membuka peluang bagi penemuan gelombang radio. Pada tahun 1845, ia melakukan percobaan dengan menaruh sebuah kotak gelas di antara dua kutub magnet yang kuat dan kemudian memancarkan berkas cahaya terpolarisasi pada gelas tersebut, dengan arah polarisasi yang sejajar dengan medan magnetnya. Ia menemukan bahwa bidang polarisasi cahaya berputar ketika melalui kotak gelas itu. Faraday menuliskan peristiwa ini dalam buku hariannya “Saya telah berhasil memagnetkan dan melistrikkan seberkas cahaya dan menyinarkan garis-garis gaya magnet”.
Kemudian ia melanjutkan teorinya bahwa apabila gelombang cahaya melewati garis-garis gaya magnet dan listrik, akan terjadi perubahan bidang vibrasi dari gelombang tersebut. Dengan demikian sebenarnya Faraday telah menunjukkan teori gelombang elektromagnetik dari cahaya. Kemudian teori cahaya sebagai gelombang elektromagnetik ini disempurnakan oleh James Clerk Maxwell.
Faraday juga sengat tertarik untuk melakukan studi tentang elektrolisis, yaitu penguraian kimiawi dengan bantuan arus listrik. Ketekunannya dalam bidang ini telah menghasilkan berbagai penemuan, yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini. Faraday juga memberikan nama-nama yang sampai saat ini masih digunakan, seperti nama “elektroda”, untuk pelat yang dialiri arus listrik pada proses elektrolisis. Ia jugalah yang memberi nama “Anoda”, untuk elektroda negatif. Kemudian nama “elektrolit” untuk zat yang dianaikkan selama proses elektrolisis serta istilah “ion” untuk partikel yang bermuatan listrik.
Selama bertahun-tahun dalam dasawarsa 1820-an, Faraday menekuni berbagai penelitian di bidang kimia. Pada tahun 1823 ia menemukan Benzena, yang kemudian banyak digunakan untuk pewarna tekstil. Ia pulalah yang pertama kali membuat baja tahan karat (Stainless steel). Faraday juga secara khusus mempelajari Chlorine dan dialah orang pertama yang dapat mencairkan Chlorine serta gas-gas tertentu lainnya dengan cara memberikan tekanan tinggi. Selain itu Faraday juga meneliti proses difusi gas dan pencampuran berbagai macam logam. Selainitu ia juga menciptakan banyak barang baru dari gelas untuk keperluan optik. Semua ini telah menjadikan Faraday salah satu dari sedikit orang yang menjadikan riset ilmiah murni sebagai profesi satu-satunya. Dalam kesibukannya di laboratorium Faraday masih dapat menyempatkan diri untuk memberikan kuliah serta ceramah ilmiah di beberapa tempat.
Pencapaiannya
Meskipun Faraday tidak pernah mendapatkan pendidikan tinggi, namun ternyata ia juga dikenal sebagai ahli teori disamping ahli fisika eksperimental. Faraday adalah ilmuwan pertama yang merombak konsep manusia tentang ruang dan waktu. Pada zaman itu, semua ilmuwan menganut teori Newton yang menyatakan bahwa dasar dari seluruh alam semesta adalah partikel dan gaya, sedangkan ruang dan waktu merupakan latar belakang saja. Faraday menyatakan teorinya yang revolusioner, ia menolak teori Newton itu. Menurut Faraday, justru ruang dan waktu itulah dasar pengaturan alam semesta, bukan sebagai latar belakang semata. “Bila Anda mengerti benar sifat ruang dan waktu maka Anda pun akan mengerti sifat materi yang berada dalam ruang dan waktu itu”, tegas Faraday. Pendekatan seperti ini disebut dengan “konsep medan”, yang hampir satu abad kemudian dijadikan dasar oleh Albert Einstein untuk menyusun teori relativitas umumnya. Konsep medan yang ditegaskan pertama kali oleh Faraday, dipandang sebagai sumabangan terbesarnya bagi ilmu pengetahuan. Einstein sendiri menyebutnya sebagai “kreasi terbesar dari pemikiran ilmiah”.
Kebanyakan penemuan besar Faraday, termasuk masalah induksi elektromagnetik didapatkan pada usia lebih dari 40 tahun. Pada tahun 1831 ia menemukan dua hukum dasar dalam elektrolisis yang sampai saat ini dikenal sebagai Hukum Faraday. Tahun 1937 Faraday menemukan bahwa jumlah elektrisitas yang dapat disimpan pada kapasitor tergantung dari jenis materi/bahan yang terdapat di antara dua pelat kapasitornya. Besaran yang menetukan kapasitansi suatu bahan ini disebut Konstanta dielektrikum atau dalam istilah Faraday disebut kapasitas induksi spesifik. Pada tahun 1840 Faraday mengembangkan hipotesis tentang hubungan antara cahaya dan gelombang elektromagnetik seperti yang dikemukakan tadi. Selain itu ia juga meyakini bahwa semestinya ada hubungan yang erat antara gaya gravitasi dan gaya elektromagnetik.Ternyata, lebih dari seabad kemudian gagasan tersebut mengilhami Albert Einstein untuk mengembangkan teori kemanunggalannya (Unified Theory). Bahkan sampai zaman ini para fisikawan teoritis terus berupaya menemukan hubungan antara keempat gaya pengatur alam semesta yaitu gaya Gravitasi, elektromagnetik, strong force,dan weak force. Sungguh ironis memang masalah yang masih dianalisis para ilmuwan, dengan matematika tingkat tinggi yang begitu kompleks, muncul dari gagasan seorang Michael Faraday yang buta matematika.
Kesederhanannya
Sejak kecil Michael Faraday hidup sangat sederhana, bahkan terkadang sangat kekurangan. Ia biasa hidup dengan apa adanya. Tapi ternyata sikap hidup sederhana dan apa adanya ini tetap dipertahankan sampai masa tuanya. Ia sama sekali tidak mengeluh ketika diangkat menjadi direktur laboratorium dengan gaji sangat kecil menurut ukuran jabatannya. Andai saja Faraday menginginkan kekayaan, sangatlah mudah baginya. Denagan nama besarnya sebagi ilmuwan, ia banyak diminta memberikan ceramah, kuliah, dan nasehat-nasehat untuk mengatasi masalah ilmiah dan dengan mudah ia akanmendapat kekayaan melimpah. Namun hal seprti itu tak pernah ia lakukan.
banyak pengusaha memintanya menjadi konsultan dengan gaji besar, namun senantiasa ditolaknya. Bahkan sejak tahun 1830 ia memutuskan untuk menolak semua tawaran untuk bekerja di luar, kecuali kuliah dan ceramah ilmiah, dan mengabdikan seluruh waktunya untuk melakukan riset murni. Begitu sederhananya Faraday, sampai ia menolak berbagai penghargaan maupun medali dari berbagai pihak yang ditawarkan kepadanya, seperti gelar profesor dari beberapa universitas terkemuka dan berbagai gelar kehormatan lainnya.
Ketika usianya mencapai 69 tahun, Faraday kehilangan sebagian besar daya ingatnya. Seringkali ia mempersiapkan percobaan untuk meneliti hal-hal yang sebenarnya sudah ia temukan bertahun-tahun sebelumnya. Ketika itu ia mengeluh “kepalaku sudah melemah dan sekarang hanya mampu memberi kuliah anak-anak saja.” Akhirnya ia menyadari keadaan fisiknya dan bersedia menghentikan kegiatan risetnya. Tujuh tahun kemudian, tepatnya tanggal 25 Agustus 1867, pada usia 76 tahun Michael Faraday menghembuskan nafas terakhirnya dengan damai di Hamphton Court, di dalam rumah yang dihadiahkan kepadanya oleh Ratu Victoria. Jenazahnya dimakamkan tidak jauh dari tempat kelahirannya. Michael Faraday telah pergi dengan meninggalkan warisan ilmiah yang tidak ternilai harganya dan begitu besar manfaatnya bagi umat manusia sampai saat ini.
-dei-
Ciamis, dec 27th ‘09
(dikutip dengan perubahan dari majalah Mekatronika,Michael Faraday:penemu prinsip dinamo dan mesin listrik;lulusan SD yang menjadi lmuwan besar,(Bandung: HASKANDO, 1984) hal. 22)
“Bagaimana Mewujudkan Keteladanan Bagi Para Dai Kampus Sebelum Berdakwah”
Seorang muslim merupakan cermin bagi muslim lainnya. Inilah sebuah nasihat Rasulullah kepada kita semua, ummat muslim, untuk senantiasa mawas diri, introspeksi, dan meningkatkan kapasitas pribadi untuk menjadi muslim sejati. Namun pada hakikatnya, pemahaman menjadi cerminan ini tidak hanya sebatas menjadi teladan bagi sesama muslim saja, karena tidak menutup kemungkinan seorang muslim dapat menjadi inspirasi kebaikan yang mampu menggugah hati seseorang, siapapun itu bahkan non muslim sekalipun, untuk menuju hidayah Illahi. Artinya, salah satu aspek penting dalam memulai pendekatan dakwah adalah keteladanan. Keteladanan yang mampu memacu perubahan, membuka jalan perjuangan, dan membangun peradaban. Karena dengan keteladanan timbul kepercayaan, terbuka jalan pendekatan sehingga mampu memberi percepatan bagi kemajuan “proyek” dakwah Islam dalam membangun peradaban.
Keteladanan merupakan bentuk lain dari kepahlawanan dan sebuah manifestasi dari suatu perjuangan. Itulah sebabnya Allah SWT mengingatkan kita agar tidak melupakan diri sendiri saat menyeru kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Quran:
“Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab, tidakkah kamu mengerti?” (Q.S. Al-Baqarah: 44)
Sebuah pertanyaan yang bermakna peringatan. Menjadi renungan tentang yang terabaikan. Menyuruh orang lain berbuat kebaikan sedangkan kita sendiri bergelimang keburukan, bukankah itu suatu kezhaliman?
Oleh karena itu setiap ikhtiar kita—para kader dakwah khusunya—untuk menyeru kebaikan haruslah diiringi dan dihiasi dengan kebaikan pula, dengan senantiasa meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri sehingga terwujud suatu makna keteladanan yang melekat erat dengan pribadi kita. Selain itu keteladanan juga menjadi suatu indikasi dari kesiapan diri untuk berdakwah. Karena logikanya, jika ingin memberikan keteladanan maka otomatis kita harus melengkapi diri dengan melakukan setiap kebaikan yang akan kita sampaikan atau paling tidak kita berdakwah menyampaikan kebaikan sambil berusaha melakukan apa yang kita sampaikan.
Dakwah dengan perbuatan lebih efektif daripada dengan lisan. Tetapi terkadang dakwah “bil lisan” ini juga perlu dipentingkan untuk mengiringi dan menyampaikan kebaikan lewat perbuatan dan keteladanan. Artinya ada sinergisasi antara lisan dan pengamalan, ucapan dengan tindakan, sehingga keselarasan hati, lisan, dan perbuatan benar-benar jauh dari kemunafikan, bersih dari kemusyrikan, dan terhindar dari pengharapan akan pujian dan sanjungan makhluk. Konsekuensi logisnya, lahirlah suatu bentuk keteladanan yang disertai keikhlasan untuk berjuang menegakkan Islam.
Pertanyannya, bagaimana mewujudkan keteladanan itu? Bagaimana caranya agar setiap kader dakwah mampu memberikan keteladanan bagi obyek dakwahnya?
Sebenarnya, kita tidak perlu sibuk memikirkan solusi jauh di luar diri kita, sebab tahapan awal pembangunan keteladanan ada dalam pribadi para kader dakwah sendiri. Proses pembangunan dapat diawali dengan pembentukan kapasitas Internal, yang meliputi kapasitas ruhyah dan kapasitas keilmuan. Dengan memiliki ruhyah yang kuat dan keilmuan yang mumpuni diharapkan para kader dakwah mampu menjadi pribadi muslim yang berkompetensi. Kekuatan ruhyah yang menghiasi hati, terimplementasi membentuk akhlak muslim sejati, menghadirkan setiap ucapan dan perbuatan yang penuh inspirasi. Seperti Rasulullah, beliau memulai dakwah juga dengan keteladanan. Al Amin, sebutan yang melekat erat dalam diri beliau bahkan sebelum didaulat menjadi seorang Rasul Allah. Semua orang tanpa terkecuali menghormati beliau karena kejujurannya yang luar biasa. Inilah bekal awal yang mungkin dianggap kecil, tetapi sebenarnya bermakna sangat besar, sebuah kejujuran. Kejujuran yang merasuk ke dalam ucapan dan perbuatan, mewarnai setiap kebaikan, berbuah keteladanan serta mampu menstimulasi perubahan untuk membangun peradaban.
Selain itu, kapasitas keilmuan dari seorang kader dakwah pun perlu dipentingkan, sebab keilmuan inilah yang kemudian akan menghadirkan kapabilitas dan kompetensi. Rasul pun mencontohkan demikian, sebelum masa kerasulannya, beliau telah berhasil membangun citra dirinya. Selain sebagai seorang yang jujur dan terpercaya, beliau juga mampu membuktikan diri sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Pengusaha yang dipercaya menangani aktivitas ekonomi, perdagangan dan jual beli antar negara. Bahkan beliau sanggup memberikan 100 ekor unta dalam pernikahannya dengan Siti Khadijah. Kesuksesan-kesuksesan yang terwujud itu pastilah berawal dari pemahaman keilmuan yang baik dalam bidang yang beliau geluti. Maka sudah semestinya kita sebagai “agen” dakwah di kampus terpacu untuk memiliki kapasitas keilmuan di atas rata-rata. Aplikasi sederhanya dapat terlihat dari wawasan yang luas, indeks prestasi yang baik (contoh IP kader >= 3), memahami keilmuan di bidangnya secara komprehensif, sehingga diharapkan dengan bekal ini setiap kader dakwah mampu memberikan keteladanan demi keberjalanan roda dakwah di kampus.
Setelah kapasitas ini terpenuhi maka secara tidak langsung kader dapat mulai untuk menata kapasitas eksternalnya. Simpati dan empati akan datang silih berganti, mulai muncul keterandalan dari dalam diri kader yang dirasakan orang-orang di sekitarnya. Satu per satu objek dakwah pun mulai menaruh rasa percaya pada kita. Sehingga dengan elemen-elemen kapasitas eksternal ini setiap kader dakwah dapat mulai membangun sebuah basis kepercayaan, sebuah modal awal yang sangat penting untuk memulai suatu perjuangan di jalan dakwah. Di tahap inilah dapat diinisiasi suatu penetrasi dakwah. Saat seseorang mulai mempercayai, maka ia akan mudah untuk dinasihati. Seperti itulah gambaran pendekataan ini. Saat objek dakwah percaya akan kapabilitas seorang kader dakwah maka akan semakin besar peluang suaranya akan didengar, pendapatnya diakui, pemikirannya menjadi sumber aspirasi, pergerakannya menjadi inovasi, dan tindakannya menginspirasi. Inilah keteladanan, yang mampu memberikan kearifan, menebar makna kebaikan dan membuka pintu perjuangan. Beranjak dari pendekatan dakwah yang optimal dan efektif, maka lahirlah capaian-capaian dakwah yang InsyaAllah baik, yaitu terbentuknya manusia rabbani dan bahkan generasi Islami sebagai “aktor” pembangun peradaban.
Tujuan dakwah hanya Allah, sedangkan harapan dan capaian adalah terbentuknya generasi rabbani. Maka sejak awal menapaki jalan dakwah ini perlu kita pahami bahwa Allah tujuan utama, sedangkan setiap harapan dan target-target dakwah merupakan kebijaksanaan yang Allah berikan berdasarkan ikhtiar dan takdir yang telah Dia tentukan. Sehingga setiap aktivitas dakwah yang dilakukan tidak berujung dengan keputusasaan dan kekecewaaan, apalagi sampai berburuk sangka kepada Allah, Naudzubillah. Inilah yang perlu diperhatikan, agar setiap bentuk keteladanan yang kita tunjukkan senantiasa diliputi keihklasan, dihiasi kearifan, dan berbuah kebaikan. Ini penting, sebab banyak yang terjebak ujub dan riya dalam mengimplementasikan hal ini. Maka dari itu, dibutuhkan riyadhoh yang kuat untuk dapat melatih diri dalam menjaga kelurusan niat, memelihara kebeningan pikiran, sehingga tercapai sebuah hakikat keikhlasan dalam keteladanan. Kemurnian-kemurnian seperti inilah yang dibutuhkan dalam memaknai filosofi keteladanan ini.
Dengan keyakinan kuat bahwa Allah sebagai tujuan, Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar, dan hanya Allah yang Maha Mengetahui maka niscaya dakwah akan semakin tepat sasaran, penuh kebermanfaatan dan kebaikan. Artinya semua kader dakwah tidak perlu menunggu memegang jabatan untuk memberikan keteladanan. Tidak ada alasan untuk menunda kebaikan. Semua pasti bisa. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan aspek keteladanan ini, perlu dimuai dari dalam diri kader dakwah sendiri, jangan hanya mengandalkan materi-materi dakwah yang diberikan, sebab semua itu akan sia-sia ketika tak diamalkan. Berani untuk berubah, luruskan niat, tingkatkan kapasitas diri, hiasi dakwah dengan keteladanan. InsyaAllah.
-dei-
19 jan 2011